Jumat, Oktober 30, 2009

AKU MEMANG SEORANG WARIA


AKU MEMANG SEORANG WARIA
Oleh : Fauzia Cahyo Indriyati

Lampu jalan menerangi wajahku yang hampir setiap malam tertutup oleh tebalnya make-up. Lalu-lalang mobil melintas didepan ku, Sesekali para pria ada yang berhenti menghampiriku. Terkadang ada yang mengajakku untuk kecan dan tak jarang ada yang hanya mengajakku bersenda-gurau.
Itulah sepintas kegiatan dimalam hari seorang waria yang bernama Vena. Jumat malam saya menemui Vena yang sedang berdiri tepat dipinggir jembatan. Vena yang berusia 24 tahun adalah seorang laki-laki tamatan SMA yang berasal dari Jawa Tengah, Vena memutuskan untuk menjadi seorang waria sejak tahun 2005 silam. Vena berpikir untuk pindah ke Jakarta karena dia merasa keadaan keluarganya yang tidak senyaman sewaktu ia masih kecil dulu. Vena mengaku ia adalah salah satu contoh korban Broken Home, yang memutuskan menjadi waria demi melampiaskan rasa kesal dirinya kepada kedua orang tuanya.
Awal mula Vena datang ke Jakarta itu dia menginap dirumah saudaranya yang berada di Priok. Saudaranya mengajak vena untuk pindah ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dari pada dikampung. Pengalaman kerja seorang Vena belia sangat banyak sebelum dia akhirnya memutuskan bekerja disalon sebagai make-up artis. Vena pernah bekerja di DUFAN (Dunia Fantasi) sebagai seorang penari dan penghibur dan dia juga pernah bekerja disebuah diskotik yang bertempat di Jakarta Pusat sebagai seorang penghibur. Sekarang sudah Hampir 3 tahun bekerja sebaga Stylist dan Make-up artis disebuah salon ternama di Jakarta. Prestasi terakhir yang dia pegang adalah pernah mendandani keluarga artis Soraya Haque untuk sebuah acara.
Vena yang mengakui mempunyai hobi olahraga tidak pernah berfikir bahwa ia akan menjadi seperti ini. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak Vena kecil untuk merubah kelaminnya menjadi seorang waria yang sampai saat ini pun tidak diakui di negara Indonesia, dimana Indonesia negara yang ia tinggali sejak ia lahir. Ia berharap Indonesia seperti negara Thailand dimana status seorang waria disamakan dengan orang pada umumnya. Tapi ia tidak pernah menyesali jalan hidup yang dia pilih sekarang ini. Ia merasa cukup nyaman dengan statusnya dia yang sebagai seorang Waria.
Vena sangat mengakui bahwa benar memang “saya seorang waria” dan saya tidak perduli dengan anggapan orang yang selalu mencemooh atau menghina kalangan kami. Saya benar-benar merasa nyaman dengan kehidupan saya sekarang. Saya beranggapan selama tidak ada orang yang mengusik atau menganggu ketentraman hidup saya, saya akan tetap menjadi apa yang saya pilih yaitu seorang waria. Dengan celetukan khasnya vena menambahkan "Toh saya juga tidak mengganggu hidup mereka kenapa saya harus ambil pusing?”.
Ketika saya tanya "Bagaimana pendapat keluarga Vena dikampung tentang perubahan yang Vena lakukan?". Sambil tersipu malu Vena mengakui bahwa keluarganya dikampung tidak tahu-menahu dengan keadaan dia yang sekrang ini (waria). Vena juga menambahkan keluarganya dikampung hanya mengetahui pekerjaan dia sebagai pegawai salon. Dan dia merasa keluarganya tidak perlu tahu tentang keadaan nya dia sekarang, toh apa yang terjadi dengan dia itu semua karena keegoisan kedua orang tuanya sehingga dia memutuskan untuk menjadi seorang waria.
Sepanjang percakapan saya dengan Vena, Vena terlihat sibuk dengan Telepon genggamnya. Gerak-gerik Vena membuat saya semakin penasaran dan timbulah sebuah pertanyaan di kepala saya, Apakah Vena mempunyai seorang kekasih? dengan sangat terkejut dan terkesima Vena mengakui bahwa ia mempunyai seorang kekasih, lebih tepatnya seorang ‘Pria Tulen’. Terlepas kalimat dari mulutnya tanpa ia sadari bahwa Pria yang dimaksud itu adalah salah satu anggota kepolisian di wilayah Jakarta. Tapi seketika Vena enggan untuk melanjutkan latar belakang kekasihnya itu. Ia takut terjadi apa-apa dengan keselamatan dirinya maupun kekasihnya.
Rasa sakit hatinya kepada seorang pria terdahulu membuat dia memutuskan untuk tidak mau menikah, walaupun ia sudah berkali-kali dilamar oleh pria tersebut. Ia tidak mau merasakan sakit hati yang terlalu sering ia rasakan, karena ia berpikir beban hidup dia saja sudah sangat susah. Jadi ia memutuskan untuk menjalani kehidupan asmaranya yang seperti ini saja. Karena Vena tidak terlalu berharap mendapatkan yang lebih indah dari yang sekarang ini.
Ketika ia ditanya bagaimana sukanya menjadi seperti yang sekarang ini? Vena mengakui semenjak dia menjadi seorang waria pergaulan dia semakin luas, artinya dia mempunyai banyak teman tidak hanya dari kalangannya, tetapi orang-oramg yang sudah bisa menerima keadaannya sebagai seorang waria. Dan mengetahui tentang hal-hal yang terbaru. Seperti Jaringan sosial seperti (Facebook), Vena mengakui punya account di situs tersebut. Vena adalah salah satu contoh bahwa menjadi seorang waria bukan berarti menutup diri dari luar.
Kegiatan yang dia lakukan hampir tiap malam selalu berada dipinggir jalan dia akui bahwa itu hanyalah sebagai rasa penghilang stress saat bekerja pagi hari. “Saatnya bersenang-senang bila malam tiba.” Vena bisa tertawa, bersenda-gurau, bercerita, bergosip, samapi hilang rasa strees yang dia alami. Tanpa harus memikirkan ia mendapat pelanggan setiap malamnya atau tidak. Ia menambahkan bahwa bila ada yang datang padanya syukur kalau ada kalau tidak yang saya hanya bersenang-senang bersama teman-teman saya. Karena pendapatan yang ia dapatkan setiap harinya sebagai seorang pegawai salon dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Kalaupun tiap malam mendapat pelanggan itu adalah sebuah bonus untuknya.
Ketika saya singgung tentang pengalam buruk seperti ditangkap Trantib, Vena mengakui bahwa ia tidak pernah terjaring oprasi tersebut, ia selalu mengetahui tentang berita akan adanya orprasi pembersihan waria. Dan memang bila dia sedang sial Vena hanya bisa lari meninggalkan lokasi ia ‘nongkrong’ secepat mungkin. Sungguh ironis memang bermain kucing-kucingan dengan aparat keamanan yang sedang bertugas pada malam hari.
Vena bercerita tentang keinginannya untuk mempunyai status yang disamakan oleh orang-orang pada umumnya. Maka dari itu Vena mengikuti sebuah Komunitas yang bernama Rembulan Perak yang bertempat di Depok. Yang aktifitasnya diisi dengan pembekalan untuk menjadi seorang entertainment. Di Rembulan Perak itu juga disalurkan job-job seperti pengisi acara bahkan MC sekalipun. dan Vena merasa sangat senang bisa menjadi bagian dari mereka. Dia merasa disinilah tempatnya untuk menyalurkan bakatnya.
Ketika saya semakin mendekat duduk disebelahnya, Aroma parfume yang keluar dari tubuhnya membuat saya berpikir bahwa Vena seorang waria yang hanya tamatan SMA mempunyai pengharapan yang lebih baik pada kehidupnya. Dengan sifat Open-mindednya, terbuka dan berwawasan luas membuat saya kagum, bahwa mereka memang benar seorang waria tapi mereka mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Dan kita patut medukung cita-cita mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setelah dibaca blog saya, tolong di komentari ya..
thks a lot..